When I’m Shifted from Old Self.

2025 sebentar lagi berakhir, dan sore ini aku menulis di kantor karena… ya, lagi bosan kerja. Barusan aku buka lagi blog lama, dan ternyata tulisan terakhirku bulan Maret. Sudah sembilan bulan. Sayang rasanya kalau blog ini tetap kosong. Saat membaca kembali tulisan-tulisan lama, aku sadar betapa banyak hal yang berubah sejak awal tahun.

Sejak pulang dari New Zealand, awal 2025 memang terasa berat untuk move on dari hal-hal yang dulu aku pernah aku jalani. Tapi seseorang pernah bilang, “What’s in the past let it stay in the past. Fokus saja pada sekarang dan apa yang ingin kamu capai ke depan.” Pelan-pelan, kalimat itu mulai masuk. Dan sekarang, aku merasa sudah jauh lebih berdamai dengan diri sendiri.

Aku juga sudah terbiasa dengan ritme hidup sebagai pekerja kantoran di Jakarta. Rute Jakarta–Bandung jadi menu rutin hampir tiap minggu. Keinginan untuk traveling ke luar negeri pun sudah tidak se-excited dulu. Ada bagian dalam diriku yang memang ingin lebih settle. Identitas pun berubah—aku jadi lebih “perempuan rumahan”: suka masak, beres-beres, pulang cepat, grooming, cooking, dan lebih menikmati keseharian yang sederhana. Mungkin memang ini fase menuju “wife material”, hahaha.

Dulu aku lebih ambisius dan workaholic. Sekarang aku memilih bekerja lebih efektif dan smart. Bukan lagi soal kerja paling lama, tapi kerja yang membuat hidup tetap seimbang. Banyak yang tanya, “Kapan nikah?” Bukan karena aku tidak mau. Justru aku merasakan ketenangan yang tidak pernah aku punya sebelumnya. Rasanya aku memang menuju arah pernikahan, jadi tidak ada panik sama sekali. Tubuh ini justru menikmati kebiasaan-kebiasaan seorang istri—atau kata banyak orang, memantaskan diri.

Banyak orang ingin cepat menikah, tapi jarang yang bertanya pada diri sendiri: sudah siapkah menjadi suami atau istri? Sudah cukup dewasa? Sudah matang secara emosi untuk menghadapi konflik? Buatku, pernikahan itu sacred. Ini keputusan paling kritikal dalam hidup, hampir seperti business decision paling penting. Sebagai perempuan single, aku sudah bahagia dan utuh. Jadi pernikahan yang aku inginkan adalah pernikahan yang mengamplifikasi rasa bahagia itu — bukan menggantikannya.

Aku teringat kata-kata Dr. Joe Dispenza: kalau mau mengubah nasib, kita harus mulai dari mengubah diri. Perubahan itu lahir dari pikiran, lalu menjadi kebiasaan. Your words define your thoughts, and your thoughts define your self-talk — dan aku benar-benar percaya itu. Tapi proses berubah tidak pernah mudah. Zona nyaman dari “old self” selalu mencoba menarik kita kembali. Namun kalau kita tidak bergerak, bagaimana hidup kita bisa ikut bergerak maju? Sekarang aku merasa sedang menjadi versi baru dari diriku — seperti sedang reinvent myself. Dan versi baru ini pelan-pelan membawa aku ke arah kehidupan masa depan yang selalu aku bayangkan

Leave a comment

About Me

Winnie Tandri Alia is a passionate and multifaceted woman who enjoys blending her introverted, nerdy side with her love for sports, fashion and elegant things. She’s always eager to learn and grow, bringing dedication to her work in the energy sector. In her free time, she finds joy in simple, calm travels and trying new experience, all while staying grounded and true to herself.